Dalam mengarungi kehidupan yang saat ini serba rumit, materialistis, dan duniawi, ada sesuatu nilai yang tercecer. Terkadang kita lupa merengkuhnya kembali. Apakah kita merasa ada sesuatu yang hilang. Ia tidak bisa diganti oleh uang dan barang. Ia tidak akan tergantikan oleh benda apapun juga. Kecuali jika kita mau merenung dan menyerahkansegalanya pada-Nya.

Dialog Dengan ALLAH

Secara ethimologis do’a adalah bermunajat atau berdialog dengan Allah. Dalam banyak ayat Alqur’an maupun Hadist, kita selalu dianjurkan untuk bermunajat kepada Allah. Langkah ini banyak ditempuh oleh para ulama Salaf Shalihin. Rasulullah saw. Dan para sahabat juga memberikan contohnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

“Do’a itu adalah puncak dari ibadah”

Seperti pada suatu ketika Aisyah-istri Rasulullah saw., melihat kaki suaminya bengkak karena lamanya berdiri sewaktu salat malam, ia pun bertanya, “Wahai Rasul Allah mengapa engkau lakukan ini? Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu?” “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang selalu mensyukuri nikmatNya?” jawab Rasulullah saw. Dengan tenang dan senyum.

Do’a. Begitulah istilah yang sering kita dengar. Sesuatu yang mampu memberikan kita isi dan memenuhi kalbu kita yang sedang kosong. Do’a adalah teman dan sahabat yang selalu mengiringi kita dari aktivitas seorang muslim. Dengan do’a, sugesti yang memberikan semangat optimistis tentang keberhasilan dari suatu aktivitas pun nampak. Dengan do’a, kita juga akan mendapatkan ketenangan yang dapat memberikan inspirasi dalam menyelesaikan segala macam permasalahan. Itulah yang membuat umat Islam di seluruh dunia selalu bersemangat dan optimistis akan keberhasilan. Selain itu, umat Islam terlihat penuh dengan ketenangan walaupun mereka sedang dikelilingi oleh segala macam permasalahan.

Tanpa do’a, semangat keberhasilan akan mengendur dengan sendirinya. Di sepanjang sejarah perjuangan da’wah Islam, faktor do’a tidak pernah terabaikan. Di malam yang semakin larut, ketika manusia terlelap tidur, sepi, terdengar gemercik air. Seorang muslim sedang mengambil wudhu, lalu shalat malam, tahajjud. Saat itu, ia berdialaog langsung dengan Tuhannya. Allah.

Hasan Al-Bana dalam buku ini, telah berhasil dengan baik mengungkapkan nilai manfaat dari do’a. Dengan bahasanya yang ringkas, padat, dan lugas. Buku ini mengajak kita untuk berdialog dengan-Nya.