PERAN SERTIFIKASI HALAL DALAM ACFTA

ASEAN China Free Trade telah kita masuki, berbagai produk luar negeri telah membanjiri pasar Indonesia, Walaupun masih terdapat pro dan kontra, seharusnya era pasar bebas ini dapat ditanggapi secara positif. Indonesia pun tidak dapat mundur lagi dari kesepakatan yang telah ditandatangani sejak tahun 2005. Hanya saja bagaimana merubah hal yang sudah terjadi menjadi lebih baik lagi yakni dengan merubah paradigma free trade menjadi fair trade.

Wacana ini diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Pangan dan Obat-obatan Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Ir. Lukmanul Hakim M.Si. Dengan adanya serifikasi halal akan mengendalikan pasar bebas (free trade) ini tetap dalam koridor, sehingga terbentuk pasar yang berkeadilan (fair trade). Bukan hanya untuk Muslim Indonesia, juga seluruhnya.

Jika isu halal ini dimasukkan sebagai requirement perdagangan bebas dan diakui secara internasional maka setidaknya ada dua golongan yang dilindungi, tidak hanya konsumen Muslim juga produsen Indonesia. Mungkin konsumen Muslim memang otomatis terlindungi, tetapi mengapa produsen Indonesia juga ikut terproteksi. Produsen Indonesia turut terlindungi karena mereka lebih siap dalam sistem sertifikasi halal yang diterapkan, sehingga mereka dapat melalui proses sertifikasi halal dengan lebih cepat dan lebih mudah mentransfer pemahaman-pemahaman yang dikeluarkan MUI untuk diimplementasikan di perusahaan masing-masing.

Sejak perdagangan bebas antara kawasan ASEAN dan China ini dibuka. Bisa dibayangkan kondisi perdagangan bebas ini jika produk pangan dan produk guna dari China dan negara lainnya masuk ke Indonesia tanpa adanya penelusuran kehalalan. Tidak menutup kemungkinan, perdagangan bebas menjadi perdagangan tanpa batas dan tidak ada lagi perlindungan terhadap konsumen muslim yang justru menjadi masyarakat mayoritas di negeri ini.

Sumber: Majalah Sharing