Jakarta, Lepas Tengah Malam…


Orang Jakarta yang muak dengan kemacetan kota merambah malam untuk merampungkan hidup yang belum selesai pada siang hari. Serasa waktu 24 jam belum cukup untuk mengurusi hidup. Inilah drama Jakarta lepas tengah malam.

“Di Jakarta itu, sebenarnya kemana-mana tidak jauh. Tetapi (saat siang hari) waktunya lama karena macet. Itu sebabnya sebagian orang memilih untuk beraktivitas di malam hari,” tutur Yogi Sumule, pemilik kedai kopi coffewar di kawasan Kemang Timur, Jakarta Selatan. Nama kedai itu memang ditulis dalam huruf kecil.

Di kedai-kedai kopi yang buka 24 jam seperti inilah orang-orang malam tersebut menemukan tempat yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Orang dari berbagai macam latar belakang datang selepas tengah malam untuk sekedar mencari teman curhat , membaca buku, atau menyelesaikan pekerjaan.

Tidak hanya kedai kopi atau kafe yang kini buka 24 jam di Jakarta. Hampir semua kebutuhan hidup masyarakat urban kini tersedia sepanjang siang dan malam, tujuh hari seminggu. Mulai dari rumah makan padang, minimarket, biro perjalanan, percetakan digital, hingga tempat cuci mobil.

Toko yang buka 24 jam juga dibutuhkan oleh ibu-ibu yang karena pekerjaan mereka baru tiba di rumah mereka pada larut malam. Irianti (37), seorang karyawan swasta di sebuah kantor di kawasan Jendral Sudirman, selalu langsung pulang begitu jam kantor usai sekitar pukul 17.00-18.00. Ia kemudian menyempatkan diri berbelanja kebutuhan sehari-hari untuk keperluan esok hari.

Bagi mereka yang berkutat di industri kreatif dan kegiatan yang membutuhkan olah pemikiran yang mendalam, bekerja pada malam hari hampir menjadi pilihan satu-satunya. “Kami hidup dengan ide. Ide itu menghantui kami. Kami mencoba mencari solusi pikiran itu dan itu hanya mungkin pada malam hari karena malam hari lebih kontemplatif. Tekanan hiruk-pikuk kota menurun,” tutur Robertus Robert, pemikir politik dan kebudayaan dari Universitas Negeri Jakarta.

Menurut Yogi, para pelanggan setianya pada malam hari kebanyakan berasal dari kalangan pemikir dan pelaku dunia kreatif, seperti film, musik, sastra, dan desain.

 

*Dikutip dari tulisan Dahono Fitrianto dan Lusiana Indriasari pada harian Kompas, Minggu, 4 Juli 2010