PANCAGATRA DAN TRIGATRA

Pancagatra dan Trigatra. Suatu hal yang baru bagi saya. Hal tersebut baru saya dengar dari dosen mata pelajaran softskill, Pendidikan Kewarganegaraan. Menurut dosen tersebut, jika Bangsa Indonesia ingin maju maka kedua hal tersebut harus dibenahi terlebih dahulu. Kedua hal tersebut juga dapat menjadi penentu dari keberhasilan atau kehancuran bangsa Indonesia. Tergantung bagaimana bangsa ini mengurus kedua hal tersebut.

Pancagatra merupakan komponen kenegaraan yang terdiri dari aspek hukum, ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Sedangkan Trigatra terdiri dari letak astronomis bangsa Indonesia, SDM , dan SDA yang dimiliki. Pancagatra dan Trigatra dapat berhubungan erat. Untuk menjadi penentu kemajuan bangsa Indonesia, pancagatra dan trigatra harus dikelola dengan baik. Tidak boleh ada kecacatan dalam mengurus kedua hal tersebut bila bangsa ini ingin mengalami kemajuan. Sebagai contoh aspek Trigatra yang dimiliki Indonesia sebenarnya sudah mencukupi sebagai modal menjadi bangsa yang terhormat dan terdepan dalam pergaulan dunia. Coba bayangkan, negara Indonesia terletak di tempat yang amat strategis. Diantara dua benua dan dua samudra. Yang di era globalisasi ini merupakan jalur perdagangan dan lalu lintas internasional (baik laut & udara) yang sangat sibuk. Indonesia dapat mengambil keuntungan dari pungutan retribusi atas tiap kapal lau dan pesawat asing yang melalui wilayah kedaulatan negara kita. Hali itu memang sudah dilakukan namun kadangkala keuntungan tersebut tidak pernah sampai ke kas negara atau daerah yang mana hasilnya dapat digunakan untuk pembangunan nasional maupun daerah. Namun, justru berakhir di kantong para pejabat yang berkepentingan.

Hali itu pun berkaitan dengan aspek kedua dari Trigatra yaitu SDM. Negara kita merupakan negara dengan penduduk terbanyak ke 4 di dunia. Namun, fakta tersebut tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pembangunan nasional. Jikalau sudah dimanfaatkan, itupun tidak dengan cara yang bermatabat. Contoh, Indonesia justru melakukan pengiriman besar-besaran TKI dan TKW ke luar negeri hingga para TKI dan TKW tersebut berjuluk “Pahlawan Devisa” namun dengan cerita yang sangat miris. Contohnya adalah para TKI dan TKW yang mengalami penyiksaan dari majikan dan tidak diperlakukan secara manusiawi. Lalu para masyarakat kita yang kalah kualitas jika dibanding masyarakat luar negeri. Sehingga muncullah slogan “Jadi Kuli di Negeri Sendiri”. Jika pemerintah sadar bahwa pemanfaatan SDM yang dimiliki harus dengan cara yang bermartabat maka pemerintah harus membuat kebijakan-kebijakan yang membuat terciptanya lapangan pekerjaan. Bukan dengan mengirim TKI atau TKW. Namun andaikan harus mengirim, maka pemerintah wajib memberdayakan para TKI atau TKW dengan kemampuan agar di luar negeri nanti mendapatkan pekerjaan yang layak. Lalu pemerataan pendidikan dan peningkatan kualitas intelektual individu masyarakat Indonesia.

Lalu yang ketiga adalah SDA. Jika kita ingin membahas SDA yang dimiliki oleh bangsa Indonesia pasti tidak akan habis. Apa aja ada di Indonesia. Jika diumpamakan alam Indonesia bagaikan “Surga Dunia” dikarenakan keindahan dan beragamnya SD yang dimiliki. Itupun sebelum dihancurkan, dirusak, dieksploitasi besar-besaran oleh orang-orang yang gila keuntungan. Indonesia pun tidak dapat menikmati hasil eksploitasi SD secara penuh dan menyeluruh karena kebanyakan dinikmati oleh orang asing atau orang berduit yang dekat dengan kekuasaan. Itulah yang membuat Indonesia terus terpuruk. Ketidakberesan dalam mengurus Trigatra akhirnya juga merembet ke Pancagatra. Karena untuk mengelola pancagtra dan trigatra dibutuhkan orang-orang yang berkualitas baik secara akal maupun moral. Kalau dalam pembentukan manusia yang akan mengelola kedua hal tersebut sudah rusak maka bagaimana kita berharap bangsa ini dapat mengalami kemajuan…….