REKSADANA

Pendahuluan

Saat ini di media massa, sedang ramai-ramainya kasus bail out Bank Century dibicarakan. Kasus yang bisa dibilang sangat menguras energi dan waktu karena hingga saat ini belum muncul penyelesaiannya. Baik itu yang terlibat dalam kasus bail out Bank Century maupun bagi kita, masyarakat yang hanya menonton dan mendengar kasus tersebut di banyak media massa. Banyak yang menarik untuk dilihat di kasus bail out Bank Century. Mulai dari pemeran utama kasus bail out Bank Century seperti para elite pansus DPR hak angket century yang banyak memanggil saksi yang diduga terlibat atau mengetahui (paham) tentang bail out Bank Century hingga para nasabah yang menginginkan dana mereka yang ditempatkan di Bank Century dapat diambil kembali. Pada paper ini kita tidak membahas persoalan kasus Bank Century yang pada awalnya merupakan masalah ekonomi tiba-tiba merembet menjadi masalah politik. Tapi kita akan membahas salah satu item yang menjadi pokok awal kasus bail out Bank Century. Yaitu reksadana. Seperti diketahui sebelumnya, dana nasabah yang hilang di Bank Century merupakan dana yang tidak dijamin oleh LPS dimana dana tersebut merupakan dana yang disimpan dalam bentuk reksadana melalui PT.Antaboga Sekuritas. Padahal menurut beberapa nasabah, mereka tidak menaruh dana mereka dalam bentuk reksadana melainkan dalam bentuk deposito. Akan sangat panjang jika permasalahan reksadana Bank Century juga ikut dibahas. Tapi kita akan fokus secara umum kepada salah satu produk perbankan, reksadana. Penjelasan lebih lengkap dan detail tentang reksadana agar masyarakat sebagai pengguna layanan perbankan semakin bertambah wawasannya tentang seluk beluk dunia perbankan secara umumnya dan produk-produk perbankan secara khususnya.

ISI

Ditinjau dari asal kata, reksa dana berasal dari kosa kata ‘reksa‘ yang artinya ‘jaga‘ atau ‘pelihara‘ dan ‘dana‘ yang berarti ‘uang‘ atau ‘kumpulan uang’. Jadi, reksa dana bisa diartikan sebagai ‘kumpulan uang yang dipelihara bersama untuk suatu kepentingan’.

Reksadana adalah wadah dan pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksadana. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek/sekuriti lainnya.

Menurut Undang-undang Pasar Modal nomor 8 Tahun 1995 pasal 1, ayat (27): “Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat Pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi.”

Dari kedua definisi di atas, terdapat tiga unsur penting dalam pengertian Reksadana yaitu:

  1. Adanya kumpulan dana masyarakat, baik individu maupun institusi
  2. Investasi bersama dalam bentuk suatu portofolio efek yang telah terdiversifikasi; dan
  3. Manajer Investasi dipercaya sebagai pengelola dana milik masyarakat investor.

Pada reksadana, manajemen investasi mengelola dana-dana yang ditempatkannya pada surat berharga dan merealisasikan keuntungan ataupun kerugian dan menerima dividen atau bunga yang dibukukannya ke dalam “Nilai Aktiva Bersih” (NAB) reksadana tersebut.

Kekayaan reksadana yang dikelola oleh manajer investasi tersebut wajib untuk disimpan pada bank kustodian yang tidak terafiliasi dengan manajer investasi, dimana bank kustodian inilah yang akan bertindak sebagai tempat penitipan kolektif dan administratur.

Membeli reksadana dapat diartikan juga seperti menabung. Bedanya adalah surat tanda menabung tidak dapat diperjualbelikan, sebaliknya reksadana bisa diperjualbelikan.
Unit penyertaan yang bisa dijual kembali kepada manajer investasi disebut reksa dana terbuka (open end). Kebalikannya adalah reksa dana tertutup (close end), yakni reksa dana yang hanya bisa dijual kepada investor lain melalui pasar sekunder. Sebagian besar reksa dana yang ada sekarang ini berbentuk reksa dana terbuka.

Reksa dana memiliki dua hal yang sulit dipenuhi oleh pemodal perorangan. Pertama, reksa dana membangun skala ekonomis dalam berinvestasi yaitu melalui penggabungan dana antara pemodal yang satu dengan pemodal yang lain sehingga terhimpun dana yang cukup besar. Kedua, menyediakan tenaga professional pengelola investasi efek secara kolektif.

Bentuk Hukum Reksadana

Berdasarkan Undang-undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 pasal 18, ayat (1), bentuk hukum Reksadana di Indonesia ada dua, yakni Reksadana berbentuk Perseroan Terbatas (PT. Reksa Dana) dan Reksadana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK).

Reksa Dana berbentuk Perseroan (PT. Reksa Dana)

suatu perusahaan (perseroan terbatas), yang dari sisi bentuk hukum tidak berbeda dengan perusahaan lainnya. Perbedaan terletak pada jenis usaha, yaitu jenis usaha pengelolaan portofolio investasi.

Kontrak Investasi Kolektif

kontrak yang dibuat antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang juga mengikat pemegang Unit Penyertaan sebagai Investor. Melalui kontrak ini Manajer Investasi diberi wewenang untuk mengelola portofolio efek dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan penitipan dan administrasi investasi.

Karakteristik Reksadana

Berdasarkan karakteristiknya maka reksadana dapat digolongkan sebagai berikut:

Reksadana Terbuka

adalah reksadana yang dapat dijual kembali kepada Perusahaan Manajemen Investasi yang menerbitkannya tanpa melalui mekanisme perdagangan di Bursa efek. Harga jualnya biasanya sama dengan Nilai Aktiva Bersihnya. Sebagian besar reksadana yang ada saat ini adalah merupakan reksadana terbuka.

Reksadana Tertutup

adalah reksadana yang tidak dapat dijual kembali kepada perusahaan manajemen investasi yang menerbitkannya. Unit penyertaan reksadana tertutup hanya dapat dijual kembali kepada investor lain melalui mekanisme perdagangan di Bursa Efek. Harga jualnya bisa diatas atau dibawah Nilai Aktiva Bersihnya.

Jenis-jenis Reksadana

  • Reksadana Pendapatan Tetap.

Reksadana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari dana yang dikelola (aktivanya) dalam bentuk efek bersifat utang.

  • Reksadana Saham.

Reksadana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari dana yang dikelolanya dalam efek bersifat ekuitas.

  • Reksadana Campuran.

Reksadana yang mempunyai perbandingan target aset alokasi pada efek saham dan pendapatan tetap yang tidak dapat dikategorikan ke dalam ketiga reksadana lainnya.

  • Reksadana Pasar Uang.

Reksadana yang investasinya ditanam pada efek bersifat hutang dengan jatuh tempo yang kurang dari satu tahun.

Manfaat Reksadana

Reksa Dana memiliki beberapa manfaat yang menjadikannya sebagai salah satu alternatif investasi yang menarik antara lain:

  • Dikelola oleh manajemen profesional

Pengelolaan suatu Reksa Dana dilaksanakan oleh Manajer Investasi yang memang mengkhususkan keahliannya dalam hal pengelolaan dana. Peran Manajer Investasi sangat penting mengingat Pemodal individu pada umumnya mempunyai keterbatasan waktu, sehingga tidak dapat melakukan riset secara langsung dalam menganalisa harga efek serta mengakses informasi ke pasar modal.

  • Diversifikasi investasi

Diversifikasi atau penyebaran investasi yang terwujud dalam portofolio akan mengurangi risiko (tetapi tidak dapat menghilangkan), karena dana atau kekayaan Reksa Dana diinvestasikan pada berbagai jenis efek sehingga risikonya pun juga tersebar. Dengan kata lain, risikonya tidak sebesar risiko bila seorang membeli satu atau dua jenis saham atau efek secara individu.

  • Transparansi informasi

Reksa Dana wajib memberikan informasi atas perkembangan portofolionya dan biayanya secara kontinyu sehingga pemegang Unit Penyertaan dapat memantau keuntungannya, biaya, dan risiko setiap saat.Pengelola Reksa Dana wajib mengumumkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) nya setiap hari di surat kabar serta menerbitkan laporan keuangan tengah tahunan dan tahunan serta prospektus secara teratur sehingga Investor dapat memonitor perkembangan investasinya secara rutin.

  • Likuiditas yang tinggi

Agar investasi yang dilakukan berhasil, setiap instrumen investasi harus mempunyai tingkat likuiditas yang cukup tinggi. Dengan demikian, Pemodal dapat mencairkan kembali Unit Penyertaannya setiap saat sesuai ketetapan yang dibuat masing-masing Reksadana sehingga memudahkan investor mengelola kasnya. Reksadana terbuka wajib membeli kembali Unit Penyertaannya sehingga sifatnya sangat likuid.

  • Biaya Rendah

Karena reksadana merupakan kumpulan dana dari banyak pemodal dan kemudian dikelola secara profesional, maka sejalan dengan besarnya kemampuan untuk melakukan investasi tersebut akan menghasilkan pula efisiensi biaya transaksi. Biaya transaksi akan menjadi lebih rendah dibandingkan apabila Investor individu melakukan transaksi sendiri di bursa.

Resiko Investasi Reksa Dana

Untuk melakukan investasi Reksa Dana, Investor harus mengenal jenis risiko yang berpotensi timbul apabila membeli Reksadana.

  • Resiko menurunnya NAB (Nilai Aktiva Bersih) Unit Penyertaan

Penurunan ini disebabkan oleh harga pasar dari instrumen investasi yang dimasukkan dalam portofolio Reksadana tersebut mengalami penurunan dibandingkan dari harga pembelian awal. Penyebab penurunan harga pasar portofolio investasi Reksadana bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya akibat kinerja bursa saham yang memburuk, terjadinya kinerja emiten yang memburuk, situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu, dan masih banyak penyebab fundamental lainnya.

Selain itu, berkurangnya nilai unit penyertaan ini dapat juga disebabkan karena biaya-biaya yang dikenakan oleh perusahaan reksa dana atas produknya. Ketika kegiatan investasi ini memperoleh hasil 0%, tetapi karena reksa dana menanggung beban seperti biaya manajemen, maka beban tersebut akan dikurangkan dari aktiva yang ada.

  • Resiko Perubahan Ekonomi dan Politik

    Perubahan ekonomi dan politik yang terjadi di suatu negara dapat mempengaruhi pandangan umum perusahaan-perusahaan di Indonesia termasuk yang tercatat di Bursa Efek Jakarta maupun Surabaya. Berubahnya pandangan umum tersebut dapat mempengaruhi likuiditas portofolio efek sehingga harga efek dapat turun ataupun naik.Sebagai contoh, ketika Indonesia dilanda krisis moneter. Pada kondisi krisis moneter, kepercayaan investor asing terhadap keamanan berinvestasi di Indonesia mulai berkurang. Banyak investor asing yang menjual portofolio efeknya dan membawa hasil penjualannya ke luar negeri. Hal ini mengakibatkan harga efek di Indonesia menjadi turun sehingga mempengaruhi turunnya nilai aktiva bersih reksa dana.
  • Resiko Likuiditas

Potensi risiko likuiditas ini bisa saja terjadi apabila pemegang Unit Penyertaan reksadana pada salah satu Manajer Investasi tertentu ternyata melakukan penarikkan dana dalam jumlah yang besar pada hari dan waktu yang sama. Istilahnya, Manajer Investasi tersebut mengalami rush (penarikan dana secara besar-besaran) atas Unit Penyertaan reksadana. Hal ini dapat terjadi apabila ada faktor negatif yang luar biasa sehingga mempengaruhi investor reksadana untuk melakukan penjualan kembali Unit Penyertaan reksadana tersebut. Faktor luar biasa tersebut di antaranya berupa situasi politik dan ekonomi yang memburuk, terjadinya penutupan atau kebangkrutan beberapa emiten publik yang saham atau obligasinya menjadi portofolio Reksadana tersebut, serta dilikuidasinya perusahaan Manajer Investasi sebagai pengelola Reksadana tersebut.

  • Resiko Wanprestasi

Resiko wanprestasi ini dapat terjadi ketika pihak-pihak terkait pasar modal seperti emiten, bank kustodian, broker gagal memenuhi kewajibannya. Kegagalan ini dapat mempengaruhi nilai aktiva bersih reksa dana. Wanprestasi dapat terjadi akibat dari pihak-pihak yang terkait dengan reksa dana, misalnya pialang, bank kustodian, agen pembayaran, atau bencana alam, kebakaran serta kerusuhan, yang mungkin akan mempengaruhi penurunan NAB reksa dana tersebut. Sebagai contoh wanprestasi terjadi ketika perusahaan asuransi yang mengasuransikan kekayaan reksa dana tidak segera membayarkan ganti rugi atau membayar lebih rendah dari nilai pertanggungan ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

  • Resiko Default

Risiko Default terjadi jika pihak Manajer Investasi tersebut membeli obligasi milik emiten yang mengalami kesulitan keuangan padahal sebelumnya kinerja keuangan perusahaan tersebut masih baik-baik saja sehingga pihak emiten tersebut terpaksa tidak membayar kewajibannya. Risiko ini hendaknya dihindari dengan cara memilih Manajer Investasi yang menerapkan strategi pembelian portofolio investasi secara ketat.

  • Resiko Peraturan

Reksadana memiliki batasan-batasan yang dimaksud untuk melindungi investor, tetapi mungkin batasan-batasan ini dapat menjadi batu sandungan bagi investor juga. Contoh batasan adalah tidak diperbolehkan reksa dana membeli efek di luar negeri dan membeli efek yang diterbitkan oleh perusahaan melebihi 10% dari nilai aktiva reksa dana pada saat pembelian.

Batasan-batasan ini sangat dirasakan ketika pasar modal Indonesia turun tajam, pengelola reksa dana tidak dapat memindahkan dananya ke pasar modal luar negeri yang lebih bergairah. Pengelola reksa dana pun tidak dapat membeli saham lebih dari 10% NABnya meskipun saham tersebut potensial.

Ada beberapa jenis reksadana. Salah satunya adalah reksadana campuran. Pada reksadana campuran terdapat berbagai jenis antara lain konvensional dan syariah. Prinsip reksadana Campuran syariah yang membedakan dari konvensional antara lain (Reading KIEI : 2005) : ReksaDana yang membatasi diri untuk berinvestasi hanya pada jenis Efek yang memberi hasil sesuai dengan Syariah Islam (tidak ada unsur ribawi) dan diterbitkan oleh perusahaan yang dalam operasinya tidak melanggar Syariah Islam sementara pemilihan Efek dilakukan secara cermat agar investasi tersebut tidak termasuk dalam kategori Gharar (Ketidakjelasan dan manipulatif). Reksadana syariah merupakan campuran investasi dalam bentuk saham halal dan campuran, yakni dana yang ditempatkan di Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) dan Sertifikat Investasi Mudharabah Antar Bank (SIMA).

Adanya pemisahan antara reksadana konvensional dan reksadana syariah ini menuntut investor untuk melakukan pemilihan investasi yang sesuai dengan preferensi mereka. Salah satu yang dijadikan criteria preferensi adalah performa dari reksadana tersebut. Hal ini diungkapkan oleh Dr.Cynthia Afriani (dosen sarjana dan pasca sarjana FEUI). Pangsa pasar reksa dana syariah saat ini makin menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan. Sejak dari kegiatan perbankan dan investasi syariah yang baru muncul beberapa tahun belakangan, pertumbuhan reksa dana syariah terus mengalami kenaikan. Hal ini dipicu oleh makin diminatinya instrumen investasi syariah selama beberapa tahun belakangan. Jakarta Islamic Index (JII) dalam lima tahun terakhir mencatat pertumbuhan transaksi investasi syariah yang jauh lebih tinggi dibandingkan IHSG.

Umumnya reksa dana syariah dijual secara ritel dengan minimal pembelian Rp250.000 per unit sampai Rp5 juta. Jakarta Islamic Centre (JII) saat ini mencatat 30 emiten yang dinilai memenuhi persyaratan syariah.Tingkat pertumbuhan reksa dana syariah akan dipicu oleh kegiatan transaksi ekonomi syariah secara umum, dan juga makin banyaknya kegiatan perbankan dan manajer investasi yang menerbitkan reksa dana syariah.

TIPS MEMBELI REKSADANA

  • Keyakinan Membeli Reksadana

Bila menelaah prilaku individu dalam memilih Reksadana, kebanyakan dari mereka hanya melihat satu faktor saja yaitu performa masa lalu (past performance). Bila suatu Reksadana memiliki tingkat performa yang baik di tahun lalu, maka cenderung masyarakat akan berduyun-duyun memilihnya. Mereka mengira bahwa menejer investasi akan terus membuat keuntungan yang sama di tahun depan. Kenyataannya, tidak demikian.

Bila Anda menggunakan hal ini dalam keputusan atau dunia investasi maka kemungkinan, Anda akan kalah atau merugi. Teori ekonomi bukanlah hal yang pasti dan dapat diprediksi. Dalam pemahaman di mana suatu hal diakibatkan oleh adanya hal lain akan sangat berlainan dengan upaya Anda memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Mengapa hal ini sangat tidak dapat dipegang? Keadaan ekonomi sekarang akan sangat berbeda dengan keadaan yang lalu.

  • Jangan Terpaku Pada Rating 

Dengan berbagai macam promosi serta iklan yang ada di masyarakat, Anda beranggapan bahwa Reksadana dengan rating tinggi akan selalu menjadi pemenang. Kenyataannya, sistem yang digunakan dalam membuat rating sebuah portofolio tidak sempurna. Sehingga memutuskan membeli Reksadana hanya berdasarkan rating yang ada adalah keputusan yang salah. Penilaian sebuah Reksadana dilihat berdasarkan performa masa lalu, dan kurang menfokuskan kepada performa masa datang. Oleh karena itu jangan membeli sebuah Reksadana hanya berdasarkan ratingnya, terutama tanpa meneruskan analisa terhadap Reksadana tersebut.

  • Selektif Dalam Memilih Manajer Investasi

Performa dari sebuah Reksadana sangat bergantung dengan pengelola dana atau manejer investasinya. Kaena dalam Reksadana Anda menyerahkan semua wewenang kepada manejer investasi untuk melakukan keputusan invesatasi. Yang harus diingat bahwa manajer investasi harus mengikuti batasan yang telah mereka tetapkan dalam prospektus. Jadi Anda juga bisa melihat bagaimana menejer investasi Reksadana mengelola dana Anda berdasarkan prospektus yang dikeluarkan.

Perubahan menejemen sering kali terjadi. Tentunya dengan masuknya orang baru dalam sebuah perusahaan pengelola Reksadana khususnya mereka yang mengelola dana maka sudah dapat ditebak bahwa orang tersebut memiliki pola pikir investasi yang berbeda dengan yang sebelumnya. Bisa saja Reksadana tersebut menjadi lebih baik atau mungkin lebih buruk. Sekali lagi bahwa performa masa lalu tidak menjamin performa masa datang (pembahasan sebelum ini).

  • Jangan Mengabaikan

Para investor terkadang berpikir, mereka bisa membeli Reksadana dengan performa yang baik dan tidak pernah lagi memonitornya atau meninjaunya kembali. Dalam hal ini, terdapat beberapa kesalahan pola pikir dalam logika ini. Industri pasar modal dan pasar uang selalu mengalami perubahan. Anda sebagai investor harus terus mengakomodir perubahan yang terjadi di pasar.

Perubahan menejer investasi sering kali terjadi. Hal ini bisa menjadi indikasi awal untuk keluar dari Reksadana tersebut. Atau seperti yang telah kita bahas di atas tadi, dana yang terkumpul bisa saja menjadi sangat besar yang pada akhirnya malah menjadi bumerang bagi Reksadana itu sendiri. Atau bisa saja terjadi di mana menejer investasi kehilangan fokusnya atau merubah kebijakan investasi yang selama ini dilaksankan.

Dalam hal ini, sangat dianjurkan untuk mengikuti perkembangan dari Reksadana yang Anda miliki. Mengikuti dalam hal ini tidak harus setiap hari, tapi paling tidak Anda meninjau ulang setiap 3 bulan.

  • Jangan Utamakan Kuantitas

Merupakan kepercayaan umum bahwa dengan memiliki 7 atau 8 Reksadana yang berbeda, investor merasa bahwa mereka sudah melakukan diversifikasi. Sayangnya, portofolio seperti ini mungkin malah tidak terdiversifikasi. Alasannya adalah dengan memiliki Reksadana dengan kebijakan investasi yang serupa akan memiliki saham-saham yang serupa pula. Misalkan Anda memiliki 10 Reksadana saham yang berbeda.

Berdasarkan aspek diversifikasi, terlihat bahwa Anda hanya memiliki Reksadana dengan produk-produk investasi yang terbatas, yaitu saham. Atau Anda hanya memiliki produk yang terbatas di pasar modal. Bila pasar dalam menurun maka hampir semua Reksadana yang Anda miliki akan menurun pula.

Oleh karena itu, tanpa dipertanyakan lagi, keputusan untuk mengalokasikan aset yang Anda miliki untuk membuat portofolio Reksadana yang baik harus dilakukan dengan matang dan dilakukan dengan benar.

  • Jangan Jatuh Hati pada Reksadana

Dalam hal investasi, setiap perusahaan akan selalu mengingatkan bahwasanya performa tahun lalu tidak menjamin apa yang akan Anda dapatkan di masa depan. Hal ini sangatlah jelas dalam aturan yang ditetapkan oleh Bapepam. Tapi terkadang dalam perihal promosi maupun periklanan terkadang mereka hanya menjelaskan performa yang lalu dan sering kali memberikan indikasi atau gambaran yang salah kepada masyarakat di mana investasi tersebut akan kembali berprestasi baik di tahun depan.

Ditambah lagi, bila sebuah Reksadana mengalami kenaikan yang sangat tinggi, maka media akan membahas hal ini dan terkadang membesar-besarkannya. Dengan pemberitaan seperti ini, maka dana tunai dari masyarakat akan masuk dalam jumlah besar, yang pada akhirnya membuat menejer investasi kewalahan dalam mengelolanya. Hal ini bisa saja berdampak terhadap penurunan performa Reksadana yang mungkin akan kembali pada performa sebelumnya dalam tahun depan.

ALASAN TEPAT MENJUAL REKSADANA

  • Investor membutuhkan Uang

Pada beberapa situasi dalam kehidupan, investor dihadapkan pada situasi harus menjual instrumen investasi. Ini penting bagi investor untuk menimbang alternative untuk menjual investasi. Investor mungkin mempunyai cara untuk meminjam melalui bank. Jika investor mampu mendapatkan pinjaman dengan bunga yang rendah, maka menyimpan instrumen investasi adalah hal yang tepat.

  • Situasi Investor Berubah

Pada beberapa fase kehidupan, investor mungkin membutuhkan untuk menjual instrumen investasi. Pada saat menjelang pensiun, biasanya investor akan lebih konservatif dalam berinvestasi. Jika menjelang pernikahan, biasanya menjadi lebih toleran terhadap risiko dan membicarakan investasi dengan calon istri. Hal ini akan mempengaruhi keputusan membeli dan menjual reksadana.

  • Reksadana Kurang Bagus

Ini adalah alasan berdasarkan kesalahan investor dalam memilih reksadana. Manakala menilai kinerja, tidak hanya melihat pada tingkat imbal hasil jangka pendek, dan jangan membandingkan barang yang berbeda. Jika reksadana berkinerja kurang bagus, melepaskan instrumen ini adalah tindakan yang tepat.

  • Manajer Investasi Berubah

Perubahan yang paling simpel, tidak ada alasan yang cukup untuk menjual instrumen pada jangka pendek. Jika manajer investasi bersifat pasif, tidak ada alasan untuk khawatir. Jika manajer investasi bersifat aktif, investor harus melihat pada manajer baru.

KESIMPULAN

Semua jenis investasi pasti juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Begitu juga jika anda ingin berinvestasi dalam bentuk reksadana. Reksadana memiliki resiko yang tidak kecil. Namun, reksadana juga memiliki keuntungan yang besar walaupun mayoritas bukan bersifat jangka panjang. Tingginya minat masyarakat dalam menginvestasikan dananya ke reksadana membuktikan bahwa reksadana masih menjadi pilihan atau incaran masyarakat yang ingin mendapatkan keuntungan dengan menginvestasikan sejumlah dana walaupun memiliki resiko tinggi. Tinggal bagaimana keinginan, keberanian, dan keyakinan masyarakat berinvestasi dalam bentuk reksadana. Serta pengelolaan reksadana yang baik.

Sumber artikel dikutip dari      :

Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN

Wikipedia.com

VIBIZnews.com

DetikFinance.com

Reksadanasyariah.net

PdfQueen.com

Blog.keuanganpribadi.com

http://portalreksadana.com/blog

Wahyu Ageng Prasetio

11208270

2EA01